Kajian Al-Hikam:

“Bagaimana hati dapat bersinar, sementara gambar dunia terlukis dalam cerminnya?
Atau, bagaimana hati bisa berangkat menuju Allah kalau ia masih terbelenggu oleh
syahwatnya? Atau, bagaimana hati akan antusias menghadap ke hadirat Allah bila
ia belum suci dari “janabah” kelalaiannya? Atau, bagaimana hati mampu memahami
kedalaman misteri gaib, padahal ia belum bertobat dari kesalahannya?!”

Ulasan:

(oleh Syekh Fadlalla)

Hati laksana cermin. Ia memantulkan apa yang dihadapi dan diinginkannya. Cermin ini tertarik pada apa yang diinginkannya dan menolak apa yang dihindarinya. BIla hati yang ikhlas menghadapi cahaya ilahi, maka ia memantulkan kebenaran yang mendalam, dan bila hati menghadapi dunia yang penuh perubahan serta perselisihan, maka ia memantulkan godaan dan realitasnya yang fana. Hati tidak bisa tercerahkan oleh penglihatan batin rohani jika ia tertutup dan ternodai oleh hasrat, nafsu, serta keinginan. Hati harus dipersembahkan semata-mata untuk tujuan awal, yakni jalan tauhid yang absolut. Allah-lah Tuhan Yang Maha Esa.

Advertisements